BeritaOpini

Janji Manis Makan Bergizi Gratis Berakhir Tragis dan Menangis

2
×

Janji Manis Makan Bergizi Gratis Berakhir Tragis dan Menangis

Share this article

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digembar-gemborkan sebagai solusi emas untuk mengatasi masalah gizi anak-anak di Indonesia. Janjinya begitu manis: setiap anak akan mendapatkan makanan sehat, bergizi, dan gratis setiap hari. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Program ini justru berubah menjadi sumber tragedi yang memilukan, membuat banyak pihak menangis, mulai dari anak-anak yang sakit hingga orang tua yang khawatir.
Awalnya Optimistis, Berakhir Miris
Di atas kertas, MBG adalah ide brilian. Anggaran triliunan rupiah digelontorkan untuk memastikan perut anak-anak terisi, agar mereka bisa belajar dengan lebih fokus dan tumbuh optimal. Senyum ceria anak-anak yang mendapatkan jatah makan gratis menjadi potret yang sering dibagikan. Namun, potret kebahagiaan itu dengan cepat digantikan oleh gambar yang jauh lebih suram.
Kasus keracunan massal menjadi babak pertama dari drama tragis ini. Di berbagai daerah, puluhan, bahkan ratusan siswa tiba-tiba jatuh sakit setelah menyantap makanan yang disediakan. Gejala mual, muntah, dan pusing menjadi pemandangan yang memilukan di ruang-ruang UKS sekolah. Penyebabnya beragam, mulai dari makanan yang basi, tidak higienis, hingga adanya kontaminasi bakteri. Janji gizi bergizi berubah menjadi racun yang membuat anak-anak harus dilarikan ke puskesmas.
Pengkhianatan di Balik Gizi
Air mata kekecewaan tidak berhenti di sana. Publik dikejutkan dengan dugaan korupsi yang menyertai program ini. Anggaran yang seharusnya digunakan sepenuhnya untuk makanan anak-anak, ternyata “dipotong” demi keuntungan pribadi. Praktik lancung ini berimbas langsung pada kualitas makanan yang diberikan. Makanan yang seharusnya bernilai tinggi, disajikan dengan bahan-bahan seadanya dan porsi yang tidak memadai. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat dan masa depan bangsa.
Namun, pengkhianatan paling telanjang dan memilukan datang dari skandal yang tak terduga: nampan makan. Terungkap bahwa nampan yang digunakan adalah produk impor ilegal, terbuat dari bahan berbahaya, dan diduga menggunakan minyak babi dalam proses pembuatannya. Nampan ini tidak hanya melanggar standar keamanan, tetapi juga merusak pasar produk lokal. Ini adalah pukulan telak yang membuat kita mempertanyakan, mengapa di saat kita ingin membangun kemandirian bangsa, justru barang-barang ilegal dan berbahaya yang digunakan? Mengapa produk lokal yang aman dan halal diabaikan begitu saja?
Menangis untuk Perubahan
Kasus-kasus ini adalah peringatan keras. Program yang dilandasi niat baik tidak akan berhasil jika dijalankan dengan kecerobohan, ketidakjujuran, dan keserakahan. Tragedi yang terjadi adalah cerminan dari lemahnya pengawasan, buruknya tata kelola, dan abainya para pelaksana terhadap keselamatan anak-anak.
Sudah saatnya kita berhenti menangisi kegagalan ini dan mulai bergerak. Pemerintah harus segera berbenah total. Hentikan praktik culas, perkuat pengawasan, dan pastikan setiap rupiah benar-benar sampai ke anak-anak dalam bentuk makanan yang layak. Yang paling utama, mulailah berpihak pada produk lokal. Gunakan bahan-bahan dari petani kita, libatkan UMKM, dan pakai produk dalam negeri yang jelas kualitasnya.
Hanya dengan begitu, air mata yang tumpah karena tragedi bisa diganti dengan senyum tulus anak-anak yang benar-benar sehat, kenyang, dan bangga pada produk bangsanya sendiri. Janji manis ini tidak boleh lagi berakhir tragis.


 

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#
https://cheersport.at/doc/pkv-games/https://cheersport.at/doc/bandarqq/https://cheersport.at/doc/dominoqq/https://cecas.clemson.edu/mobile-lab/pkvgames/https://cecas.clemson.edu/mobile-lab/bandarqq/https://cecas.clemson.edu/mobile-lab/dominoqq/https://revistas.pge.sp.gov.br/docs/pkvgames/https://revistas.pge.sp.gov.br/docs/bandarqq/https://revistas.pge.sp.gov.br/docs/dominoqq/
https://journal.rtc.bt/https://plenainclusionmadrid.org/salud-mas-facil/https://revistas.pge.sp.gov.br/https://qa.upd.edu.ph/
https://prajaiswara.jambiprov.go.id/https://lpm.stital.ac.id/https://digilib.stital.ac.id/https://sipil.teknik.untan.ac.id/https://lpsi.uad.ac.id/https://bsdm.uad.ac.id/